Rivalitas Cina dan Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik dalam Bidang Ekonomi

Rivalitas AS-China
Rivalitas AS-China Source: Credit to original owner
US-China Flag in Asia Pacific Rivalries
US-China Rivalry. Source: Credit to original owner

Asia Pasifik merupakan wilayah strategis yang menjadi arena perebutan pengaruh geopolitik. Kompetisi ini terlihat dengan kebangkitan negara-negara di Asia Pasifik dari segi perekonomian. Meningkatnya aktivitas perekonomian di kawasan ini menjadi magnet yang menarik perhatian negara-negara besar untuk menggeser perhatiannya ke Asia Pasifik. Hal ini terlihat ketika Amerika Serikat (AS) di masa pemerintahan Obama untuk menciptakan inisiatif kebijakan “pivot to Asia”. Kebijakan ini ditujukan untuk “rekalibrasi” kepentingan strategis AS dari Eropa dan Timur Tengah ke Asia Pasifik. Hal ini juga merupakan langkah Amerika Serikat untuk memantau perkembangan Cina melalui pembentukan Trans Pacific Partnership (TPP).

 

Pergantian Obama ke Donald Trump menyebabkan perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS. Hal ini dikarenakan perbedaan pandangan Trump dengan kebijakan Obama sebelumnya. Trump dengan tegas menarik dirinya dari TPP yang telah diupayakan oleh Obama, dan juga menganggap bahwa Cina merupakan negara manipolator yang telah mencurangi AS melalui praktik perdagangan yang tidak adil. Penarikan diri ini dilakukan Trump atas dasar prinsip “America First” yang berarti bertanggung jawab untuk Amerika Serikat, bukan dunia. Pendekatan diplomatik ini mencerminkan tradisi populisme Amerika dan Jacksonianisme modern, yang berpendapat bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat harus berfungsi untuk menjaga kesejahteraan ekonomi Amerika Serikat dan keamanan yang sebenarnya, mendorong hubungan dagang yang lebih kuat dengan mitra dagang, dan mengadvokasi isolasi dari organisasi internasional serta lebih memperkuat keamanan nasional banyak melalui strategi politik besar daripada dengan mempromosikan demokrasi atau pembangunan bangsa di luar negeri.

Langkah Trump ini dinilai sangat merugikan AS dan beresiko jangka panjang. Keputusan ini akan menyebabkan AS kehilangan kesempatan untuk mempromosikan ekspor, mengurangi hambatan perdagangan, membuka pasar baru, dan melindungi penemuan dan inovasi AS. Sebaliknya, Cina justru diuntungkan dari keputusan ini karena Cina dapat mengatur blok sendiri dan mendominasi perdagangan di Asia Pasifik, serta dapat memperoleh keuntungan yang signifikan. Karena hal ini juga, AS mulai kehilangan dukungan dari negara sekutu tradisionalnya di wilayah Asia Pasifik seperti Filipina dan Singapura yang mulai memberi “angin” kepada Cina.

Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok telah membangun hubungan ekonomi yang semakin interdependen dengan Amerika Serikat, dan perkembangan ekonominya telah menjadi pilar penting bagi kemakmuran AS. Hanya dengan kerjasama dengan China, Trump dapat mengimplementasikan komitmennya untuk merevitalisasi ekonomi AS. Bahkan negara-negara di Asia lebih menggantungkan perdagangannya kepada Cina dibandingkan AS karena Cina telah menunjukkan akan menawarkan investasi kepada teman-temannya dan sanksi ekonomi bagi mereka yang tidak menyukainya. Bagi Cina, wilayah Asia Pasifik merupakan batu loncatan untuk dapat mencapai tiga target utama Cina, yaitu memimpin di kawasan Asia Timur, menjadi kekuatan dominan di wilayah Asia Pasifik, kemudian menjadi super power di dunia.

Upaya Cina dibuktikan melalui diciptakannya “Belt Road Initiative” yang menyediakan infrastruktur yang sangat dibutuhkan untuk menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Inisiatif yang diciptakan oleh Xi Jinping ini melibatkan lebih dari 65 negara. Hal ini sangat memberikan kemudahan bagi banyak pihak, sehingga dukungan begitu mengalir terhadap kebijakan Cina ini. Pembangunan jalur perdagangan ini telah mendapatkan banyak investasi baik dari negara-negara Eropa ataupun Asia. Investasi yang diterima China adalah berupa dana maupun bantuan perlindungan militer.

Bahkan Cina juga menciptakan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang merupakan bank pembangunan multilateral dengan misi untuk meningkatkan hasil sosial dan ekonomi di Asia dan sekitarnya. AIIB telah berkembang menjadi 86 anggota yang disetujui dari seluruh dunia. Investasi Cina dalam infrastruktur berkelanjutan dan sektor produktif lainnya hari ini akan menghubungkan masyarakat, layanan, dan pasar yang lebih baik dari waktu ke waktu akan berdampak pada kehidupan masa depan yang lebih baik. Hal ini sangat membantu negara-negara di Asia yang mayoritas memiliki ekonomi yang sangat jauh dibawah Cina. Sehingga dengan penyediaan layanan ini, Cina sangat berpeluang untuk memperoleh simpati dari negara-negara yang sangat membutuhkan bantuan ini.

Untuk itu, masuknya AS ke kawasan Asia Pasifik mengkhawatirkan Cina akan pengaruh yang disebarkan oleh AS untuk menghalangi kepentingan nasional Cina. Meskipun AS menyatakan bahwa kehadirannya di Asia Pasifik merupakan upaya untuk menciptakan kestabilan dan menjamin keamanan di kawasan Asia Pasifik. AS juga ingin kembali menarik simpati dari negara-negara sekutunya yang berada di kawasan Asia.

Agar Amerika menjadi “hebat lagi”, Trump perlu mempertahankan momentum pertumbuhan dan bukannya mengurasnya, dan maka dari itu ia berusaha memulihkan kekuatan Amerika Serikat dan mengejar keamanan dan kepentingan ekonominya dengan menggunakan bantuan negara lain. Amerika Serikat akan membutuhkan sekutu dan mitra yang kuat, independen, dan andal untuk memajukan kepentingan vitalnya di Asia. Tetapi satu-satunya cara seperti McCain di Asia-Pacific Stability Initiative dapat berhasil adalah jika Amerika Serikat menyediakan wilayah dengan alternatif ketergantungan ekonomi pada Cina dan institusi yang dipimpin Cina.

Menghidupkan kembali partisipasi AS dalam TPP (atau beberapa versinya) adalah langkah pertama yang paling sederhana dan jelas. Politik perdagangan AS sangat buruk saat ini, tetapi begitu juga konsekuensi dari penarikan AS dan proteksionisme. Jika sebuah tatap muka pada TPP terlalu banyak bahkan untuk administrasi Trump, maka itu akan menyambung usaha ekonomi yang sama ambisiusnya di Asia. Jika tidak, Amerika Serikat akan segera tersingkir dari petak besar wilayah tersebut.

 

 

Daftar Pustaka

Buku:Qing, Liu. 2017. “Trump’s Asia-Pacific Policy:Features and Directions”. CIIS

Wickett, Xenia. 2017. “America’s International Role under Donald Trump”. London: Chatham House.

Website:

https://www.foreignaffairs.com/articles/asia/2016-12-05/asia-pacific-strategy-trump

https://www.theguardian.com/us-news/2017/jan/23/donald-trump-first-orders-trans-pacific-partnership-tpp

https://bisnis.tempo.co/read/839514/donald-trump-tarik-as-dari-tpp-siapa-diuntungkan

https://www.nytimes.com/interactive/2018/03/09/world/asia/china-us-asia-rivalry.html

https://cyberleninka.ru/article/v/china-vs-usa-geopolitical-rivalry-in-the-asia-pacific-region

http://foreignpolicy.com/2017/05/12/the-united-states-is-losing-asia-to-china/ https://www.aiib.org/en/about-aiib/index.html

https://www.cfr.org/expert-roundup/beijings-asia-pivot-2016

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*