New Chapter: Konflik Nuklir Iran-Israel

Written by: Fadli Reyhansyach Nino & Ulita Talida Chomsa

srael berdiri pada tahun 1948, pada saat Irak memburu warga Yahudi dan mereka melarikan diri untuk menetap di Israel, Iran menjadi tempat persinggahan mereka. Awal mulanya negara Israel dan Iran mempunyai hubungan baik, Iran-Israel memiliki hubungan diplomatik pada rentang waktu sekitar tahun 1948-1979, ketika Iran masih berbentuk monarki (kekaisaran). Hubungan diplomatik yang baik tersebut justru kini berubah menjadi permusuhan, bermula sejak Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Revolusi ini menjadi momentum historis terjadinya perubahan drastis hubungan diplomatik Iran-Israel. Pemicu utama yang mendasari permusuhan ini yaitu pengakuan dan dukungan penuh Iran (setelah Revolusi Islam Iran) melalui Ayatullah Ruhullah Khomeini, terhadap entitas politik di Palestina. Hubungan diplomatik de facto antara Israel dan Iran pun diputus oleh Iran pasca revolusi. Perubahan kian terjadi ketika Iran mendukung solusi one-state solution. Solusi ini sangat ditentang oleh pihak Israel.

Fakta-fakta sosial politik yang ada pada akhirnya memunculkan rivalitas di antara Iran-Israel. Meningkatnya rivalitas Iran-Israel pada tahun 2005 ditunjukkan dengan munculnya perang proksi atau diistilahkan dengan proxy war. Proksi antara Israel dan Hizbullah di Lebanon Selatan pada tahun 2006 berlangsung selama kurang lebih satu bulan lamanya. Perang ini dimenangkan oleh Hizbullah. Israel yang kalah pun merasa dipermalukan. Kemenangan Hizbullah tersebut dapat dibilang tidak “berdiri sendiri”. Iran menjadi pemasok dana, strategi dan sejenisnya. Iran menjadikan dirinya sebagai bagian dari pendukung langsung Hizbullah. Jelas ini mengundang kemarahan Israel. Oleh sebab itu, pasca kekalahan mereka dari Hizbullah yang didukung Iran tersebut, Israel kemudian melakukan peningkatan kekuatan militer secara masif. Selain perang Israel-Hizbullah di Lebanon Selatan, perang proksi antara Israel-Iran yang dapat menjadi medium konflik potensial antara kedua negara ini di antaranya yang masih berlangsung yaitu perang di Suriah dan Palestina. Di Suriah misalnya, Iran secara terang-terangan mendukung Bashar al-Assad yang memposisikan dirinya sangat anti dengan Israel. Kemudian di Palestina, Iran secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap organisasi politik Hamas dimana secara ideologis-historis merupakan musuh utama Israel dalam konteks konflik Israel-Palestina.

Iran merupakan salah satu negara pemilik uranium yang menjadikannya alasan untuk menyokong pengembangan nuklir negaranya. Hingga 1980-an, Iran berperang melawan Irak dalam perang delapan tahun akibat masalah perbatasan dan pengaruh Islam Syi’ah. Perang ini menyebabkan Iran krisis tenaga listrik. Iran mengklaim bahwa program nuklir yang dijalankannya sebagai pengganti energi listrik dicurigai sebagai senjata pemusnah yang akan dipakai dalam perang. Pada tahun 2006 Iran diberikan sanksi oleh PBB agar tidak memproduksi uranium secara berkelanjutan. Sanksinya berupa larangan beli senjata, larangan jual beli minyak, hingga larangan bertransaksi dengan bank di Iran selama 7 tahun. Iran diprotes oleh beberapa negara terutama AS dan Israel untuk menghentikan pengembangan program nuklir.

Pada akhirnya, para pemimpin Iran memutuskan untuk tetap melanjutkan kembali program nuklir dengan alasan untuk keperluan sipil negara Iran seperti pengganti energi listrik, tetapi hal tersebut tetap dicurigai sebagai alasan untuk membuat senjata pemusnah massal yang akan dipakai dalam perang. Iran menampilkan beberapa kepentingan negaranya dalam melakukan program nuklir. Iran berani mengambil resiko nuklir karena dianggap sebagai potensi perlindungan. Iran berpendapat dengan kekuatan sebagai senjata penangkalan dari kejahatan, mampu membuat negaranya bertahan pada sistem internasional yang anarki. Badan Intelijen Israel, Mossad, mengklaim telah berhasil menembus “jantung” Iran. Mossad menyatakan bahwa Israel berusaha secara terus menerus dalam  mengumpulkan data intelijen, hal ini bertujuan untuk mengungkapkan rahasia Iran dalam perkembangan nuklir yang dianggapnya telah mengembangkan program nuklirnya menjadi bom secara diam-diam. Baru-baru ini Iran mengumumkan akan melakukan pengayaan uraniumnya hingga 60%, setelah ledakan di fasilitas nuklir Natanz yang diduga disebabkan oleh Israel. Hal tersebut menjadi salah satu faktor keputusan Iran dalam penggunaan militer dengan pelanggaran baru atas komitmen yang telah dibuat pada komunitas internasional. Iran melemparkan tuduhannya kepada Israel dalam kejadian sabotase yang terjadi di pabrik pengayaan uranium Natanz dan berjanji akan melakukan “balas dendam” yang sampai saat ini belum jelas maksudnya.

Konflik nuklir yang telah terjadi mengundang respon dunia internasional karena menyangkut keamanan dunia serta kedaulatan negara-negara lainnya. Salah satu respon internasional dalam menyikapi konflik nuklir Iran-Israel ini adalah Uni Eropa. Hubungan kerja sama kedua belah pihak terganggu, Iran dianggap tidak kooperatif untuk memberikan kepastian tujuan pembuatan nuklir kepada Uni Eropa dan dinilai tidak transparan. Iran juga akan menolak bekerja sama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) bilamana IAEA melalui desakan yang diberikan oleh AS-Israel terus mengganggu pengembangan nuklir di Iran. Pasalnya, IAEA terus melakukan monitor terhadap pengembangan nuklir di Iran, namun tetap tidak ada indikasi pembuatan nuklir pemusnah massal. Pada tahun 2002, kelompok oposisi National Council of Resistance of Iran (NCRI) mengungkap adanya program nuklir rahasia yang dijalankan Iran. Hal ini terbukti melalui pembangunan pabrik pengayaan uranium di Natanz dan reaktor air berat di Arak dimana bahan-bahan tersebut dapat membuat senjata nuklir dan bom. Namun, Iran tetap membantah tuduhan-tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa pengembangan nuklir yang dilakukan bertujuan untuk kepentingan sipil dan kesejahteraan rakyatnya.

Presiden Ahmadinejad menegaskan bahwa nuklir yang dikembangkan Iran ke depannya akan digunakan pada banyak bidang, seperti listrik domestik, kedokteran, lingkungan, pertanian, dan kepentingan nasional Iran lainnya dalam kemajuan negara, bukan untuk kemiliteran seperti yang dituding oleh banyak negara. Respon internasional lainnya juga diluncurkan oleh AS sesuai dengan resolusi-resolusi yang dijatuhkan DK-PBB, melalui pemberian sanksi berupa embargo ekonomi, pelarangan ekspor impor alat perang dan pengisolasian Iran di kawasan internasional. AS yang pro terhadap Israel terus menekan Iran melalui berbagai cara untuk menghambat perkembangan nuklir Iran, di lain sisi  Iran yang merupakan bagian dari anggota Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT). Melalui pasal IV dalam hukum ketetapan NPT bahwa negara anggota NPT berhak mengembangkan nuklir untuk kedamaian dan dijamin oleh hukum internasional NPT itu sendiri. Hal tersebut juga didukung melalui pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, bahwa tidak ada bukti Iran melanggar kesepakatan perjanjian NPT yang artinya Iran tetap pada aturan dan pengawasan yang terkontrol oleh NPT.

Respon lainnya datang dari Cina. Cina dapat menyediakan nuklir secara mandiri dan mendapatkan persediaan batu bara melalui kerjasamanya dengan Australia. Namun, kebutuhan terbesar Cina adalah minyak. Cina sebenarnya dapat membeli minyak dari pasar internasional, tetapi pemerintah Cina tidak ingin memiliki ketergantungan terhadap pasar yang sulit dikontrol, sehingga Cina memilih Iran sebagai sumber pemasok minyaknya. Oleh karena itu, dilihat dari posisi Cina yang terus melakukan kerjasama dan investasi dengan Iran, Cina berpandangan bahwa pengembangan nuklir di Iran sah, terlebih tidak ada bukti-bukti empiris kuat yang menunjukkan adanya pemanfaatan nuklir sebagai senjata penghancur massal.

Dari beberapa respon dan pandangan internasional, terdapat suatu unsur kepentingan negara atau maksud tertentu dalam berpandangan terhadap konflik nuklir Iran-Israel ini. AS cenderung berposisi kepada Israel melalui berbagai macam tudingan dan kecurigaan terhadap perkembangan nuklir Iran, seolah AS-Israel tidak ingin Iran berhasil mengembangkan nuklir. Iran sendiri terus berusaha keras meyakinkan dunia internasional bahwa nuklir yang dikembangkan Iran ini bukan untuk senjata pemusnah massal. Dalam menyelesaikan konfliknya tersebut Iran juga melakukan beberapa pembahasan dengan berbagai negara seperti contohnya Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, bersama dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, membahas hubungan kerja sama dalam sektor ekonomi dan Indonesia juga mendukung implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231. Resolusi 2231 ini adalah terkait isu nuklir Iran dan komitmen PBB untuk mendukung adanya penelitian, produksi, dan pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai.

Namun di lain sisi, mantan kepala intelijen Israel membeberkan operasi misi rahasia nuklir Iran berupa penggerebekan arsip nuklir Iran pada 2018, menurut mantan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melalui file tersebut bahwa Iran pernah secara sembunyi-sembunyi membuat senjata nuklir. Melalui berbagai fenomena dan tindakan yang dilakukan, baik Iran maupun Israel, serta beberapa pandangan yang diberikan dunia internasional, diprediksi bahwa konflik nuklir Iran-Israel ini akan terus berlanjut melihat kepentingan nasional Iran dalam pengembangan nuklir sangat kuat dan tetap teguh untuk dilanjutkan. Sementara itu, Israel kedepannya juga masih akan terus berusaha berbagai cara untuk menghentikan upaya pengembangan nuklir Iran tersebut, melihat bagaimana kedaulatan Israel merasa terancam mengingat hubungan antar kedua negara semakin memanas.

REFERENSI

Hardianti, E. (2015). Kebijakan Uni Eropa Dalam Menghentikan Proliferasi Nuklir Iran (2009-2013). Diakses melalui ESTI HARDIANTI-FISIP.pdf (uinjkt.ac.id)

Ilham, M. (2019). Status Quo Konflik Iran -Israel (2005-2018). 

Nugroho, A. (2012). Dukungan Cina Terhadap Program Nuklir Iran (2006-2009). Diakses melalui 78-145-1-SM.pdf (d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net)

Sabiila, S. I. ( 2021). Iran akan Mulai Pengayaan Uranium 60 Persen Usai Sabotase Israel. DetikNews, https://news.detik.com/internasional/d-5531790/iran-akan-mulai-pengayaan-uranium-60-persen-usai-sabotase-israel 

Teddy, T. S. B. “Mantan Kepala Intelijen Israel Beberkan Operasi Misi Rahasia Nuklir Iran”. Liputan6, https://www.liputan6.com/global/read/4582228/mantan-kepala-intelijen-israel-beberkan-operasi-misi-rahasia-nuklir-iran . Diakses pada 16 Jun. 2021.

Tommy, K. “Bahas Nuklir, Menlu Iran Javad Zarif Temui Retno Marsudi”. Liputan6, https://www.liputan6.com/global/read/4536318/bahas-nuklir-menlu-iran-javad-zarif-temui-retno-marsudi . Diakses pada 16 Jun. 2021. Wibisono, R. (2011). Respon Amerika Serikat Terhadap Pengembangan Teknologi Nuklir Iran (2005-2010). Diakses melalui Ragil Wibisono.pdf (uinjkt.ac.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*