Menilik Takhta Perekonomian Global: Eksistensi Mata Uang Amerika Serikat, China, dan Rusia.

Penulis: Fadillah Rafli Anwari dan Salsabilah Safitri

 

Pendahuluan

Dolar AS telah menjadi mata uang paling kuat di dunia selama 78 tahun terakhir, sejak Perjanjian Bretton Woods 1944. Pengaruh dominasi status mata uang Amerika ini memberikan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya atas ekonomi dunia. Mata uang dolar bahkan telah mendominasi pemain raksasa lainnya, seperti Cina dan Rusia. Namun, ditengah bayang-bayang negeri Paman Sam di sinilah Cina dan Rusia datang dengan rencana induk untuk membunuh dominasi dolar AS di dunia. Jika melihat data 10 tahun terakhir, dapat dilihat terdapat penurunan cukup signifikan cadangan mata uang dolar AS. Pada tahun 1999, dolar AS memiliki pangsa pasar sebesar 71% di antara mata uang cadangan global tetapi dalam dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dolar mengalami penurunan hingga mencapai kurang dari 59%. Hal tersebut dimanfaatkan Cina dan Rusia selama hampir satu dekade, karena nyatanya mata uang Cina yaitu yuan telah mendapatkan tempat di pasar mata uang global. Banyak peristiwa menarik baru-baru ini membuktikan bahwa salah satu konsekuensi yang tidak diinginkan dari perang terbaru di Ukraina adalah sanksi AS dan Eropa yang tanpa sengaja menimbulkan paradoks bagi kedua negara tersebut. Hal ini memperkuat rubel Rusia dan menyebabkan kebangkitan yuan Cina sebagai mata uang yang dapat diperdagangkan. Akibatnya, kedua mata uang ini menjadi lebih menonjol dalam pengaruh cadangan mata uang global. Selain itu, Cina memiliki keunggulannya tersendiri dengan hadirnya yuan digital yang dapat diperdagangkan dan membantu mengaktifkan kembali penataan klub BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa), organisasi yang mewadahi negara-negara tajuk industri. Kelima anggota tersebut percaya, hadirnya kerjasama ini akan menjadi kekuatan baru untuk menciptakan sistem perekonomian dan keuangan global yang multipolar secara adil. Rusia dan Cina telah menandatangani perjanjian perdagangan bilateral berbasis mata uang, jauh dari dolar AS. Maka, apabila strategi Cina dan Rusia ini berhasil, bukan tidak mungkin dolar AS akan tergantikan dengan peran dari mata uang cadangan baru.

 

Namun, Mengapa Mata Uang Dolar AS Begitu Penting? 

Sejarah panjang mengenai dominasi dolar AS ditandai dengan terbentuknya The Federal Reserve Act of tahun 1913, hal ini menciptakan Federal Reserve Bank untuk menanggapi ketidakandalan dan ketidakstabilan sistem mata uang sebelumnya didasarkan pada uang kertas yang dikeluarkan oleh masing-masing bank. Bertepatan dengan perekonomi AS melampaui Inggris. Mayoritas negara maju mematok mata uang mereka ke emas sebagai cara untuk menstabilkan pertukaran mata uang.  Namun, ketika Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, banyak negara menangguhkan penggunaan standar emas untuk membayar biaya militer dengan uang kertas, hal ini menyebabkan terjadinya devaluasi mata uang. Sehingga, Amerika Serikat menjadi pemberi pinjaman pilihan bagi banyak negara yang ingin membeli obligasi AS berbentuk dolar, karena nyatanya standar emas Inggris telah ditinggalkan pada tahun 1932 dan menghancurkan rekening bank perdagangan internasional, yang berdagang dalam pound. Dalam sisi lain, Raja Ibn Saud dari Arab Saudi di tahun 1945 pernah membuat keputusan menggunakan dolar untuk memperdagangkan minyak, ini terjadi karena imbalan atas akses ke cadangan minyak Arab Saudi, bahwa AS menjanjikan dukungan penuh secara militer kepada penguasa Al Saud. Hasilnya Arab Saudi memutuskan untuk membelanjakan ekspor minyak dalam bentuk mata uang dolar AS. Selanjutnya pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat muncul dan berkembang pesat sebagai ekonomi terkuat di dunia. Keberadaan dolar menjadi jantung dalam sistem keuangan baru yang dipergunakan untuk bertransaksi minyak serta alat berbisnis perusahaan multinasional. Tentu hal demikian menunjukkan eksistensi dari dolar AS, kini dolar telah menggantikan posisi pound sebagai mata uang cadangan internasional terkemuka.

 

Strategi Cina Menyebarkan Mata Uang Yuan

Perekonomian Cina menunjukkan keberhasilannya dalam beberapa dekade terakhir, ditandai dengan nilai produk domestik bruto (PDB) yang mencapai $17,7 triliun hingga menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat. Di tahun ini, para pemimpin Cina menegaskan bahwa ingin meningkatkan the renminbi’s profile sebagai mata uang cadangan. Pada bulan Juli 2022, The People’s Bank of China mengumumkan kerjasama dengan lima negara dan Bank for International Settlements. Cina, bersama dengan Indonesia, Malaysia, Hong Kong, Singapura, dan Chili masing-masing akan menyumbangkan 15 miliar yuan. Sementara itu, yuan Cina telah menjadi mata uang cadangan de facto di Rusia. Hal ini dipertegas setelah Rusia menghadapi sanksi dari barat karena invasinya ke negara Ukraina awal tahun ini. Hingga kini, 17 persen dari cadangan devisa Rusia dalam bentuk mata uang yuan. Yuan juga merupakan mata uang ketiga yang paling banyak diminta di The Moscow Exchange. Ketika kemitraan ini menjadi lebih kuat, tak heran status yuan sebagai mata uang cadangan bisa semakin mengakar.

Selanjutnya, bergeser pada negara di Timur Tengah, yakni Arab Saudi menunjukan minatnya dalam mempertimbangkan perluasan bisnis dari pendanaan RMB (Renminbi) dengan Cina. Hal ini disampaikan oleh Mohammed al-Tuwajiri sebagai Wakil Menteri Ekonomi dan perencanaan Saudi, pada konferensi Saudi-Cina di Jeddah. Terdapat pergeseran lebih lanjut yang dilakukan Arab Saudi ke Cina, ketika kedua negara tersebut mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) antara perusahaan minyak Amerika Arab (Aramco) dan Cina Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) yang membahas kerja sama dalam ruang lingkup yang dalam dan luas. Tentu hal ini sangat penting bagi masa eksistensi yuan dan rencana jangka panjang Cina di Arab Saudi. Kemudian, sejak tahun 2014, 14 negara Afrika telah membahas yuan sebagai mata uang cadangan untuk melakukan bisnis dengan Cina. Melihat hubungan Cina di Benua Afrika sebagai mitra dagang terbesar melalui perdagangan dan investasi yang tumbuh dari $149 miliar pada 2016 hingga $300 miliar saat ini, membutuhkan yuan untuk menopang pertumbuhan ekonominya. Ini berdasar pada negara-negara Afrika yang telah menggunakan yuan sebagai instrumen keuangan guna terciptanya perdagangan bebas kontinental Afrika. Akhirnya, ketika adopsi kontinental yuan berkembang, begitu juga masa depan perdagangan di Afrika. Dengan kata lain, ekonomi Yuan Cina membentuk dan memiliki pengaruh yang besar bagi masa depan Afrika.

Cina menggunakan jalur swap mata uang bilateral untuk negara-negara maju dalam hal mendominasi mata uang yuan. Cara yang potensial dalam menghasilkan likuiditas sementara dalam mata uang asing. Ekonomi mitra dapat memperoleh RMB dan menyelesaikan langsung ke perdagangan bilateral, tanpa perlu menggunakan dolar AS untuk menyelesaikan transaksi. Metode ini cukup efektif dan banyak dipergunakan oleh beberapa mitra dangan Cina guna mengurangi eksistensi dolar AS. Contohnya, perdagangan mata uang antara Cina dan Rusia sekitar 13 persen dalam impor produk jadi, dimana banyak perusahaan di Rusia terlibat pada perdagangan untuk membeli menggunakan mata uang yuan Cina. Sebaliknya, perusahaan Cina kebanyakan membeli kayu, batu bara, dan migas dari Rusia. Dengan menghindari konversi pertama dari rubel ke dolar AS dan kemudian kembali ke yuan, perusahaan akan menghemat setidaknya 0,1 hingga 0,3 persen dari nilai barang dagangan. Hal ini bermanfaat jauh lebih tinggi, hingga lima persen dibanding menukarkannya dalam bentuk dolar terlebih dahulu.

Tak sampai disana, perang antara Ukraina dan Rusia, terkhusus sanksi-sanksi yang didapat Rusia oleh negara-negara Barat membuat Cina ikut andil dalam membantu Rusia. Volume yuan yang mengalir ke sistem perbankan Rusia rata-rata sekitar 10 miliar hingga 15 miliar yuan per bulan sejak Februari 2022. Rusia juga akan menerbitkan obligasi 100 miliar rubel ($1,67 miliar) serta berencana untuk menggunakan hasil dari obligasi rubel dan yuan untuk tujuan umum. Sehingga, kian eksis dan dibutuhkannya penggunaan yuan di negara-negara maju dan berkembang. 

 

Rubel Semakin Menguat Di Tengah Sanksi Besar Dunia

Tak kalah dengan sahabatnya tirai bambu, negara beruang merah ini mengalami penguatan mata uang mereka yaitu rubel mencapai 52,3% terhadap dolar AS dan menjadi rekor baru sejak tahun 2015. Namun, mengapa di tengah sanksi ekonomi yang diberikan AS dan negara-negara di dunia mata uang ini justru semakin menguat? Rusia adalah pengekspor gas terbesar dan pengekspor minyak terbesar kedua di dunia. Pelanggan utamanya bukan tak lain, yaitu Uni Eropa yang telah membeli energi Rusia senilai miliaran dolar per minggu. Meskipun, Uni Eropa telah melakukan sanksi besar terhadap Rusia dengan melarang impor minyak Rusia pada tahun 2021, tetapi Uni Eropa memiliki pengecualian yang signifikan untuk minyak yang dikirim melalui pipa, negara-negara yang terkurung daratan seperti Hungaria dan Slovenia tidak dapat mengakses sumber minyak alternatif yang dikirim melalui laut. Pembatasan mata uang asing oleh pemerintah Rusia untuk keluar dari negaranya juga memainkan peran besar, faktanya Rusia tidak dapat mengimpor lebih banyak lagi berkat sanksi, berarti mereka hanya menghabiskan lebih sedikit uangnya untuk membeli barang-barang dari tempat lain. Meskipun, banyak negara Barat telah membatasi pembelian minyak Rusia, tetapi Moskow masih membuat rekor keuntungan akibat sanksi tersebut. Dalam 100 hari pertama perang Rusia-Ukraina, Federasi Rusia meraup pendapatan $98 miliar dari ekspor bahan bakar fosil. Sekarang, Uni Eropa telah mengirim lebih banyak uang dalam bentuk rubel Rusia untuk pembelian minyak, gas, dan batu bara dari pada mengirim bantuan ke Ukraina, yang telah membantu mengisi peti perang Kremlin. 

 

Kesimpulan

Dalam menilik takhta perekonomian global, eksistensi mata uang Amerika Serikat hingga kini memiliki kekuatan yang menjanjikan bagi negara-negara di dunia. Namun, hal lain yang terlalu krusial untuk dilirik seperti, mata uang Cina: yuan dan Rusia: rubel kini juga patut diperhitungkan. Perkembangannya yang cukup pesat dan ditandai dengan kebangkitan Cina di kawasan. Berbagai rintangan dan hambatan kedepan tentu akan dihadapi Cina bersama Rusia dalam upaya mengurangi dominasi dolar AS. Melihat pada realita, penulis berpandangan bahwa dolar AS masih akan bertahan cukup lama sebagai mata uang dunia. Mengapa demikian? karena dolar AS memegang 62% dari mata uang cadangan agregat dunia atau dengan kata lain sebagian besar bank sentral negara-negara dunia menyimpan dolar untuk keperluan pasar modal. Untuk saat ini mata uang yuan bahkan tidak termasuk di antara empat mata uang cadangan teratas seperti, euro, yen, pound sterling, dan franc Swiss. Jika kita berkaca pada mata uang dolar AS, faktor terbesar mengapa masih banyak negara ingin menggunakan dolar karena kestabilitasannya, hal ini cukup berbanding terbalik dari mata uang yuan atau bahkan rubel.

Terlepas dari itu, transparansi pemerintah yang diterapkan baik itu Cina dan Rusia sangat tertutup menjadi kelemahan utama mengapa dolar AS masih akan terus bertahan. Ketidakpastian situasi ini akan membuat negara-negara berpikir kembali dalam menggunakan yuan dan memilih di dalam lingkungan yang lebih transparan seperti dolar AS. Mata uang yuan juga sering sekali mengalami devaluasi. Hal ini menimbulkan spekulasi akan tingginya potensi tekanan yang berimbas pada ekonomi Cina, harga komoditas global, dan harga jual minyak global. Akibatnya, hal tersebut dapat memaksa negara-negara lain untuk mendevaluasi mata uang mereka agar ekspor ke AS lebih murah, imbasnya semakin meningkatkan defisit perdagangan ke AS. Namun, penulis juga berpandangan bahwa bukan tidak mungkin dolar AS akan tergantikan dengan yuan dan rubel, apabila  permasalahan dalam kebijakan dapat diatasi baik dari pemerintahan Cina-Rusia ataupun citranya di mata dunia. Tentu, hal ini akan terus berlanjut dan diperhitungkan dalam tatanan ekonomi politik global. 

Pemenang kompetisi ekonomi ini kemungkinan akan terlihat dalam waktu dekat. Jadi, apakah kekuatan rubel dan yuan yang akan menggantikan? Atau Amerika Serikat akan tetap mampu mempertahankan dominasi dolar?

Referensi 

Baltrusaitis, J. (2022, April). ‘Real value’ of one U.S. dollar decreases by 86% in the last 50 years. Retrieved from Finbold: Finance in Bold: https://finbold.com/real-value-of-one-u-s-dollar-decreases-by-86-in-the-last-50-years/

Crabbe, L. (1989). The international gold standard and US monetary policy from World War I to the New Deal. Fed. Res. Bull., 75, 423.

Donath, K.-H. (2010, December 14). Yuan-ruble trading challenges dollar’s predominance. Retrieved from DW: https://amp.dw.com/en/yuan-ruble-trading-challenges-dollars-predominance/a-6329616

Eira, A. (2022). 4 Reasons Why Yuan Won’t Replace Dollar as Reserve Currency. Retrieved from Finance Online: https://financesonline.com/4-reasons-why-yuan-wont-replace-dollar-as-reserve-currency/

Flandreau, B. E. (2008). The Rise and Fall of the Dollar, or When Did the Dollar Replace Sterling as the Leading International Currency? NBER Working Paper Series, 31. Retrieved from NBER: National Bureau of Economic Research.

Hao, K., & Han, L. (2022). The impact of China’s currency swap lines on bilateral trade. International Review of Economics & Finance.

Hayes, A. (2021, Juni 29). Strong Dollar: Advantages and Disadvantages. Retrieved from Investopedia: https://www.investopedia.com/articles/forex/051415/pros-cons-strong-dollar.asp

Kaul, V. (2022, April 1). The Chosen Yuan? What the new oil scenario predicts about the Dollar. Retrieved from mint: https://www.livemint.com/mint-top-newsletter/easynomics01042022.html

Mukeredzi, T. (2014, Agustus). Chinese yuan penetrates African markets. Retrieved from Africa Renewal: https://www.un.org/africarenewal/magazine/august-2014/chinese-yuan-penetrates-african-markets

Priangani, A. (2015). Perkembangan Brics (Brazil, Russia, India, China and South Africa) Dalam Kancah Ekonomi Politik Global. Jurnal Kebangsaan, 4(7), 103254.

Sukirno. (2015, Agustus 13). Devaluasi Yuan dan Dampak Jangka Panjang Bagi Indonesia. Retrieved from Bisnis.com: https://m.bisnis.com/amp/read/20150813/191/462279/devaluasi-yuan-dan-dampak-jangka-panjang-bagi-indonesia

The Yuanisation of Africa. (2022, April 4). Retrieved from IOL: https://www.iol.co.za/news/africa/the-yuanisation-of-africa-f9b1ac13-fba1-4275-aa9a-aad65ce21e7d

Turak, N. (2022, Juni 23). Russia’s ruble hit its strongest level in 7 years despite massive sanctions. Here’s why. Retrieved from CNBC: https://www.cnbc.com/2022/06/23/russias-ruble-is-at-strongest-level-in-7-years-despite-sanctions.html

Watkins, S. (2022, September 13). China And Russia Move To Disrupt The Dollar’s Dominance In Oil Markets. Retrieved from OilPrice: https://oilprice.com/Energy/Energy-General/China-And-Russia-Move-To-Disrupt-The-Dollars-Dominance-In-Oil-Markets.html

YUKUN, W. X. (2022, Agustus 9). Yuan bonds debut in Russia as challenge to dollar dominance builds. Retrieved from Nikkei Asia: https://asia.nikkei.com/Spotlight/Caixin/Yuan-bonds-debut-in-Russia-as-challenge-to-dollar-dominance-builds

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*