Melihat Peluang Reunifikasi Korea Utara-Korea Selatan

Dua Korea
Reunifikasi Dua Korea Dalam Ilustrasi. Source: RAND.org

Reunifikasi Korea telah menjadi isu strategis yang bertahan lama. Dua Negara tersebut yakni Korea Utara dan Korea Selatan yang mana banyak memiliki kesamaan dalam budaya, karakteristik masyarakat dan geografi karena berada pada wilayah dan rumpun yang sama. Hda masa penjajahan Jepang tepatnya pada 22 al ini disebabkan juga karena pada jaman dahulu kedua Korea merupakan satu kesatuan dalam naungan kerajaan yang tumbuh dan berkembang membentuk suatu peradaban yang sama.

Pada Agustus 1910 Jepang membentuk pemerintahan baru di Korea dan memaksakan kebudayaan Jepang pada masyarakat Korea. Hal ini memantik reaksi keras dari masyarakat sehingga melakukan perlawanan. Jepang baru benar-benar meninggalkan Korea setelah mereka mengalami kekalahan pada perang dunia kedua. Dalam masa kekosongan kekuasaan tersebut muncullah tokoh-tokoh kemerdekaan Korea seperti Kim Il Sung dan Rhee Syngman yang telah mendirikan pemerintahan sementara di luar Korea pada masa penjajahan.

Pasca kekalahan Jepang, Amerika Serikat dan Uni Soviet memasuki Korea. Dengan perbedaan ideologi yang sangat mencolok keduanya menempatkan diri masing-masing di wilayah utara dan selatan. Amerika Serikat memilih Rhee Syngman memimpin di wilayah selatan dengan ideologi liberal sedangkan Uni Soviet memilih Kim Il Sung memimpin di wilayah utara dengan ideologi komunisnya, karena selama masa penjajahan Kim Il Sung melarikan diri ke Uni Soviet dan membentuk Negara sementara di sana.

Hal inilah yang menjadi awal perpisahan kedua saudara yang terletak di semenanjung Korea tersebut. Di bawah kepemimpinan masing–masing pemimpin, Kim Il Sung di utara dan Rhee Syngman di selatan, kedua calon Negara tersebut mendapatkan kemerdekaannya masing–masing. Setelah resmi menjadi dua Negara yang masing– masing berdaulat, kedua Negara tersebut masih berada dalam kekuasaan Negara perwaliannya, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Uni Soviet meninggalkan wilayah utara Korea tahun 1948 setelah berhasil membangun rezim komunis dengan sempurna menjadikan Korea Utara menjadi bagian dari sekutu Uni Soviet. Wilayah selatan Korea masih belum mampu untuk menjalankan pemerintahannya sendiri tanpa bantuan Amerika Serikat sehingga Korea Selatan lebih dikenal sebagai Negara boneka Amerika. Perpisahan antara keduanya merupakan masalah yang menyangkut kepentingan dunia karena letak yang strategis dari Negara yang terpecah ini.

Semenanjung Korea adalah jembatan atau koridor yang strategis antara China daratan dan Jepang. Perpisahan itu juga memunculkan peperangan pertama yang terjadi selama tahun 1950-1953 yang diakhiri dengan gencatan senjata. Karena gencatan senjata merupakan penyelesaian militer dan bukan penyelesaian politik, maka perimbangan militer antara kedua korea menjadi salah satu perimbangan militer yang paling kritis hingga saat ini dan masih sering memunculkan ketegangan – ketegangan antara kedua Negara.

PERTANYAAN ANALISIS

Bagaimana proses reunifikasi Korea selatan dengan Korea Utara, berdasarkan identitas masyarakatnya dengan perspektif historical sociology?

KERANGKA BERPIKIR

Berdasarkan sejarah yang ada, Korea merupakan negara yang bersatu dan mengalami perang yang mengkibatkan terpecahna negara tersebut menjadi Korea Selatan dan korea Utara. Dilihat dari peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Korea Selatan dan Korea Utara mempunyai masyarakat yang pada dasarnya memiliki identitas yang sama, Meskipun telah terpecah. Satu bangsa dua negara.

ANALISIS

Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih dalam keadaan perang. Sebab, Perang Korea pada 1950-1953 hanya diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata, bukan kesepakatan damai. Kondisi di Semenanjung Korea dalam beberapa tahun terakhir memanas setelah Korea Utara di bawah rezim Kim Jong-un gencar melakukan uji coba rudal balistik serta program pengembangan nuklir. Tensi sedikit mereda setelah putra bungsu Kim Jong-il itu mengimbau dalam pidato tahun baru agar momen berdirinya Korut ke-70 diisi dengan partisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang.

Dari segi identitas, seperti yang dikatakan oleh Alexander Wendt, Identity are the Basic of Interest, disini identitas kedua Korea yang pada dasarnya merupakan satu bangsa dan dipisahkan oleh kepentingan dan ingin pula bersatu demi kepentingan yang dinamakan perdamaian, identitas sebuah aktor merupakan suatu hal penting untuk mencapai suatu kepentingannya, dalam hal ini kedua Korea yang telah lama bertikai ingin menciptakan perdamaian di semenanjung Korea, bahkan mereka juga mempunyai cita-cita mendirikan pemerintahan yang bersatu dalam satu wilayah dan satu bangsa yang berdaulat seperti yang diinisiatifkan oleh Korea Utara.

Pada dasarnya kedua negara mempunyai keinginan kuat dan inisiatif besar dalam proses reunifikasi, namun kepentingan aktor lain terhadap wilayah semenanjung Korea yang menjadi struktur (dalam perspektif konstruktivis) muncul dan seringkali menghambat proses dan keinginan dua negara bersaudara tersebut. Identitas masing-masing negara terlihat dari national interest yang tampak dalam proses kesehariannya. Bagi Korea Utara yang pola dan tingkah kesehariannya berdasarkan pada kebijakan kepala pemerintahannya.

Secara identitas, kita sama-sama tahu bahwa Korea Selatan dan Korea Utara memiliki satu bangsa yang satu identitas sebagai Bangsa Korea, hal ini menjadi kekuatan utama dalam proses reunifikasi Korea. Karena dengan adanya kesamaan identitas tersebut akan mempermudah langkah persatuan, kemungkinan besar mereka memiliki karakteristik yang sama dan budaya luhur yang sama. Sehingga budaya yang akan dijalankan tidak akan mengalami perubahan besar.

Korea Utara pun resmi menyamakan waktunya dengan wilayah Korea Selatan, mereka menggunakan waktu untuk dijadikan sebagai identitas nasional. Namun yang menjadi pertimbangan dalam proses reunifikasi tersebut tidak hanya tentang identitas, tetapi masih banyak hal lain, salah satu diantaranya adalah mengenai sistem pemerintahan yang sangat berbeda antara Korea Selatan dan Korea Utara, hal ini disebabkan ketika sejarah jajahannya, Korea Selatan dibawah Pemerintahan Amerika Serikat, sedangkan Korea Utara dibawah pemerintahan Uni Soviet.

Dari segi masyarakat pun, walaupun banyak yang mendukung akan rencana reunifikasi ini, mayoritas para pendukung berada dikalangan muda, karena mereka menganggap akan terjadinya perdamaian dan banyak hal yang menyenangkan dengan bersatunya Korea.

Namun para golongan tua yang pernah merasakan perang Korea lalu, lebih memilih untuk dilaksanankannya perdamaian di semenanjung Korea dibanding dengan reunifikasi Korea. Mereka sangat khawatir akan terjadinya perang kembali seperti sebelumnya. Setidaknya untuk saat ini, yang menjadi tujuan utama adalah Korea dapat menjalin hubungan baik sebagai satu bangsa, dapat bekerjasama, karena untuk reunifikasi membutuhkan banyak pertimbangan dan persiapan yang matang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*