KOREAN WAVE: DAMPAK EKONOMI BAGI KOREA SELATAN

Ditulis Oleh: Shafa Salsabila Nadiah Putri dan Hening Dien Fasikha

Budaya populer adalah budaya yang paling banyak diminati dan disukai masyarakat saat ini. Budaya populer ini memang memikat, karena konsepnya ringan, menarik dan menyenangkan. Membuat semua orang berduyun-duyun ingin menjadi bagian darinya. Pada budaya populer ini peran media massa sangat besar karena melalui merekalah berbagai budaya seperti musik, film, makanan, hobi, dan lainnya bisa sampai dan dinikmati oleh semua orang

Ketika sebuah budaya menjadi trend dalam kehidupan masyarakat hal ini menjadi salah satu ciri dari budaya populer yang cenderung akan banyak diikuti atau digemari oleh masyarakat pada umumnya. Budaya populer juga memiliki sifat adaptabilitas yang tinggi, karena budaya populer sangat mudah dinikmati oleh masyarakat umum dan tidak dipungkiri akan berkembang di masyarakat. Ciri lain dari hasil kreasi manusia yang menjadi tren dalam kalangan masyarakat umum yaitu adanya keseragaman bentuk, yang pada akhirnya diikuti dan memiliki potensi terjadinya imitasi. Karya tersebut selanjutnya akan menjadi pelopor bagi karya-karya lain dengan karakteristik yang serupa. Jika dilihat, budaya populer juga bersifat durabilitas, yang berarti  sebuah budaya atau kebiasaan memiliki daya tahan yang kuat dan keunikan tersendiri sehingga melekat kuat pada kehidupan masyarakat tak peduli sudah berapa lamanya budaya ini berjalan. Dengan begitu, dalam sisi ekonomi, sebuah budaya populer mampu menghasilkan keuntungan besar dalam bentuk materi bagi siapa industri yang menaunginya.

Korean wave, misalnya, adalah sebuah istilah yang diberikan untuk penyebaran budaya populer Korea melalui produk-produk hiburan seperti drama, musik, hingga fashion. Korea memadukan unsur modern dalam hal ini teknologi dengan tradisi dan nilai-nilai kekeluargaan melalui budaya populer, terutama k-pop dan k-drama. Korean wave dengan mudah menjadikan anak-anak muda di dunia, khususnya Indonesia, sebagai “korban”. Mereka dengan mudah menjadi konsumen yang membeli  produk skincare, kosmetik, pakaian hingga makanan asal Korsel. Hal ini juga berpengaruh positif terhadap penjualan produk-produk Korea tersebut.

Saat terjadi krisis keuangan di Asia pada akhir dekade 1990-an dan banyak negara di Asia mengalami kesulitan, pemerintah Korsel justru membentuk Kementerian Kebudayaan dengan departemen khusus K-pop. Tak hanya itu, berbagai macam cara juga dilakukan oleh pemerintah Korsel demi melindungi industri K-pop. Mereka membangun auditorium konser raksasa, mengembangkan teknologi hologram, hingga mengatur bar karaoke (noeraebang). Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah Korsel dalam mengelola industri hiburan di negaranya.

Sejak awal, industri hiburan Korsel, termasuk K-drama dan K-pop, telah menjadi proyek raksasa pemerintah Korsel. Dibawah koordinasi Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan (MCST), didirikan tiga lembaga yang bertanggung jawab dalam menjamin kontinuitas persebaran Gelombang Korea ini. Lembaga tersebut diantaranya adalah Korea Creative Content Agency (KOCCA), Korea Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE), dan Korea Tourism Organization (KTO). 

Lembaga-lembaga ini membawa berbagai misi, misalnya, KOCCA bertanggung jawab atas kemajuan konten kreatif Korsel di dalam dan diluar negeri. Sedangkan KOFICE, menjalankan tugasnya dengan fokus pada misi pertukaran budaya dan program akademik. Kemudian KTO, lembaga ini bertanggung jawab pada perkembangan budaya dan pariwisata yang berdampak langsung terhadap devisa negara. Lembaga ini juga merupakan jembatan penting yang mewadahi potensi keuntungan negara dari datangnya turis mancanegara yang tersedot gemerlap Hallyu. Ruang lingkup KTO termasuk yang paling luas karena atraksi wisata yang dikerjakan adalah atraksi yang telah, dan akan, diperkenalkan dalam berbagai konten Gelombang Korea, baik itu drama, maupun musik. Tidak hanya itu, KTO juga bertanggung jawab membentuk stigma menarik Korsel.

Industri film di Korsel merupakan faktor awal lahirnya Korean Wave. Sepuluh tahun yang lalu mungkin hanya drama-drama produksi Korsel menjadi salah satu produk yang diimpor oleh negara tersebut. K-drama menjadi daya tarik karena ceritanya yang dikemas dengan baik dan berkualitas. K-drama ini selalu membawa unsur-unsur kebudayaan dalam setiap filmnya, contohnya seperti gaya busana, makanan khas negara tersebut, atau daerah-daerah khas dari negara Korsel. Industri film ini memberikan dampak baik bagi perekonomian Korsel, karena baik K-drama atau film dapat mencerminkan keadaan negara tersebut secara tidak langsung, contohnya seperti memperlihatkan teknologi Korsel yang maju, masyarakatnya yang ramah, kebudayaan yang beragam, negara-negara dengan pemandangan yang indah yang mana akan menarik minat yang melihatnya untuk lebih dalam mengenal kebudayaan Korsel.

Selain industri film, industri musik di Korsel juga merupakan salah satu faktor mengapa Korean Wave semakin menyebar. K-pop menarik perhatian banyak masyarakat tidak hanya di negara asalnya tetapi juga perhatian dari masyarakat di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan K-Pop memberikan tidak hanya audio yang enak didengar namun juga visual yang enak dilihat. Dibuktikan dengan banyaknya para penggemar dari boyband dan girlband Korea yang yang menjamur dimana-mana, tidak terkecuali di Indonesia. Generasi muda sudah sangat banyak yang mencintai dan menggemari musik dari Korsel tersebut, Hal ini berdampak pada bermunculannya toko-toko yang menjual berbagai pernak-pernik dan hal-hal yang berkaitan dengan musisi-musisi dari Korsel dan tidak dapat dipungkiri hal tersebut mampu meningkatkan nilai jual produk korea di mancanegara, sehingga secara tidak langsung Korean wave juga berdampak pada sektor ekonomi Korsel itu sendiri

Kontribusi Korean Wave selain berperan besar dalam kegiatan ekspor ternyata juga sangat berpengaruh dalam peningkatan jumlah pariwisata ke Korsel yang setiap tahunnya mengalami kenaikan selama Korean Wave berlangsung. Apa yang ditonton orang terutama orang-orang di luar negeri dalam tayangan film-film drama Korsel yang selalu menunjukkan bagaimana keindahan Korea dan nilai-nilai sosialnya, mampu menarik mereka untuk datang langsung melihat lokasi syuting film-film tersebut. Hal tersebut kemudian mampu menjadi pembangkit perekonomian Korsel ke arah yang lebih baik. Jumlah wisatawan mancanegara ke Korsel meningkat dari 647.000 orang menjadi 968.000 orang pada tahun 2004, meningkatnya wisatawan mancanegara ini disebabkan dengan meningkatnya masyarakat di luar Korsel yang ingin berkunjung langsung ke Korsel karena terkena demam Hallyu. Sebagai contohnya, banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Dae Jang Geum Village di Korsel setelah menonton drama Dae Jang Geum (Jewel in the Palace).

Ketiga hal tersebut menjadi sumber peningkatan perekonomian Korsel melalui Korean Wave, Duta Besar Indonesia untuk Korsel, Umar Hadi, menjelaskan bahwa perekonomian Korsel saat ini tidak lagi pada tahap mengandalkan industri manufaktur, melainkan sudah masuk ke sektor jasa, industri kreatif, dan digitalisasi. Hal ini didukung dengan tingginya popularitas budaya pop Korsel. Ekonomi Korsel semakin membaik karena banyaknya permintaan produk-produk seperti album musik, film drama, serta banyaknya turis-turis mancanegara yang datang dari luar negeri karena tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat yang mereka lihat di dalam drama yang mereka sukai.

Reference:

Dante, V. (2017, September 15). Memahami demam K-pop di Indonesia. Dipetik Januari 15, 2021, dari Rappler: https://www.rappler.com/world/bahasa-indonesia/memahami-demam-k-pop-indonesia

Putri, I. P., Liany, F. D., & Nuraini, R. (2019). K-Drama dan Penyebaran Korean Wave di Indonesia. ProTVF, 3(1), 68-80. Dipetik Januari 15, 2021

DosenSosiologi.com. (2019, 13 September). Pengertian Budaya Populer, Ciri, Proses, Macam, dan Contohnya. https://dosensosiologi.com/budaya-populer/ (Diakses pada 19 Januari 2021)

Arief, Anto. (2017, 17 Januari). Apa itu budaya pop?. https://pophariini.com/budaya-pop/ (Diakses pada 19 Januari 2021)

Wadrianto, Glori. K. (2020, 24 Januari). “Korean Wave” dalam K-pop dan K-Drama, Apakah Kamu “Korbannya”?. https://amp.kompas.com/lifestyle/read/2020/01/24/181156720/korean-wave-dalam-k-pop-dan-k-drama-apakah-kamu-korbannya (Diakses pada 19 Januari 2021)

Ikhsan, Mohammad. & Walter D.T Pinem. (2012). Korean Wave dan Peningkatan Perekonomian Korea Selatan. https://www.seniberpikir.com/korean-wave-dan-peningkatan-perekonomian-korea-selatan/?amp (Diakses 12 Februari 2021)

Uly, Yohana Artha. (2020, 15 Oktober). Bagaimana K-Pop dan K-Drama Pengaruhi Ekonomi Korsel?. https://money.kompas.com/read/2020/10/15/074500126/bagaimana-k-pop-dan-k-drama-pengaruhi-ekonomi-korsel-?page=1 (Diakses pada 12 Februari 2021)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*